Showing posts with label 5 months. Show all posts
Showing posts with label 5 months. Show all posts

Tuesday, July 10, 2012

Asha Loves Tomato

0 comments
Asha started her first meal 5 days earlier before she's 6 months old. Hehe.. It was me who had the idea to give early meal to Asha. Naughty mommy!

We (me and Asha) were at hospital that day, Friday July 5th 2012. Asha was already fit that day, we were waiting for doctor for final visit and waiting hubby to pick us up. That morning i ordered sandwiches for breakfast *by the way they served delicious nutritious sandwiches i ever tasted. There were tomatos slices on it. Somehow i took the tomato slices, cut it in long shape, remove the seed, and handed it to Asha. Hihihi.. >:-)

She grabbed the slippery tomato slice, looked at it curiously, and it took sometimes for her until she put it in her mouth. Haha..  But then the tomato slice slipped from her hand. And that was it, she refused to grabbed it and preffered to throw it. Sighh.. She wasn't interested yet in her meal.

But i was so curious to see her reaction if i put the tomato in her mouth. So i put the tomato inside her mouth, she began to sip it. My God her face when she sipped the tomato was priceless! At first she was surprised, curious and astonished at the same time. She stopped a while and began to laugh and scream. Ooww..she loved it! :D She began to take another sip of tomato. She sipped it almost all the way through, if i didn't hold the tomato i think she already eat the whole slice. Hihi.. At the end she only eat half slice because i think it was enough for meal trial. The conclucion was, she loved tomato! :D

At noon when she poo, there were tomato skin left on her poo. Haha.. Good girl! You made it!


Monday, July 9, 2012

Asha Was Sick : Medical Encounter

1 comments
My baby girl Asha dirawat di RS Hermina Arcamanik Bandung sejak hari Sabtu tanggal 30 Juni 2012. Asha yang saat itu berada dalam gendongan ibu dibawa dari ruang IDG ke ruang perawatan menggunakan kursi roda yang didorong oleh suster. Kami tiba di ruang perawatan 315a pukul 01.30. Asha berbagi ruangan dengan satu pasien lain yang sudah lebih dulu menempati ruang 315b.

Asha mulai rewel sejak pertama masuk ke dalam ruangan. Dia menangis dan merengek walau sudah kami gendong. Huhu.. Sedih sekali melihat Asha seperti itu. Saya, hubby, dan ibu bergantian menggendong Asha dan berusaha meredakan tangisnya. Saat itu demam Asha belum reda juga sehingga kami masih meletakkan kain kompres di dahinya. Sesaat setelah Asha tenang dan mulai tertidur, hubby pamit untuk mengantarkan ibu kembali ke rumah dan mengambil beberapa barang yang diperlukan. Saya pun meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk Asha yang mulai tertidur. Ada rasa takut dan khawatir ditinggal sendirian saja dengan Asha. Tapi saya berusaha tegar demi Asha. Lagipula ada suster yang selalu bolak-balik mengecek suhu dan kondisi Asha. 

Sambil menunggu hubby kembali, saya terus menerus mengecek suhu Asha dan mengganti air kompresan. Malam itu Asha tidak bisa tidur nyenyak. Pasien di ruang 315b juga masih anak-anak. Beberapa kali dia sempat merengek dan suaranya membangunkan Asha. Menyebabkan Asha terbangun dari tidurnya dan menangis lebih keras dan lebih lama. Sementara pasien sebelah melanjutkan tidurnya, Asha masih merengek dan menangis. Saya dan hubby bergantian menimang Asha, mencoba menenangkannya. Saat Asha mulai berhasil tertidur, pasien sebelah kembali merengek. Duuh... Asha kembali terbangun, merengek dan menangis lebih lama dan lebih keras. Sedangkan pasien sebelah kembali melanjutkan tidurnya. Terus begitu sepanjang malam. Hueeeee.. Saya dan hubby mulai kelelahan. 

Malam yang terasa panjang akhirnya berhasil kami lalui dengan cara bergantian menjaga Asha dan mencuri sedikit waktu untuk sejenak memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh yang lelah. Hingga pagi tiba, Minggu 31 Juni 2012, demam Asha masih dikisaran 38,5 derajat celcius (DC). Pagi-pagi suster datang dan mengecek suhu Asha yang masih demam. Jadwal pagi itu adalah menyeka tubuh Asha sebagai pengganti mandi pagi dan berharap agar demamnya dapat turun. Asha menangis selama tubuhnya diseka. Aku sedih melihatnya. Berasa melihat Asha sedang disiksa. Huhu.. Ajaibnya setelah diseka suhu Asha turun jadi 35,8 DC. Tapi efek nya tidak bertahan lama, tak lama kemudian tubuhnya kembali demam mencapai 38,5 DC. Hiks..

Tiap 4 jam sekali suster memberikan Sanmol (Parasetamol) untuk menurunkan demam Asha. Tentu saja Asha menangis dan berteriak saat suster mencekokinya dengan Sanmol itu. Huhu.. Asha sampe terbatuk2 dan hampir keselek saat dia menelan obatnya. Efek Sanmol dalam menurunkan demam Asha hanya bertahan1-2 jam. Setelah itu suhu Asha kembali naik di kisaran 38,5 DC. Huhu.. Minum obat lagi, suhu turun lagi, 1-2 jam kemudian suhu naik lagi, siklusnya terus berulang. Selain Sanmol, Asha pun minum Stesolid (Diazepam) 3 kali sehari sebagai obat anti kejangnya. Karena selama masih ada demam maka potensi untuk kejang masih ada. Stesolid diberikan sebagi tindakan preventif terhadap kejang.

Hingga siang hari, dokter anak yang bertanggung jawab terhadap Asha belum juga datang. Damn! Saya sebel banget, dari tengah belum ada dokter yang visit Asha. Awalnya saya berencana mengunakan jasa DSA (dokter spesialis anak) yg menangani Asha sejak lahir di RS itu. Tapi kebetulan saat itu beliau sedang cuti. Hikss.. Alhasil saya pake sembarang DSA yang katanya jaga saat itu. Tapi manaaaa? Kami sudah tunggu sejak malam, tapi si dokter ga nongol juga. Itu salah saya karena pilih DSA sembarangan!!! Lain kali saya ga mau lagi kaya gitu. Lain kali saya harus punya DSA cadangan yang cocok dan sesuai buat kami. 

Selepas jam 12 siang itu, suster beserta dokter ruangan (akhirnya ada juga dokter yang visit, walau dia dokter umum) menginformasikan pada kami bahwa si DSA menginstruksikan lewat telpon agar Asha diinfus dan diberi antibiotik Taxegram (Cefotaxim). Oh serta diambil darah lagi untuk pemeriksaan darah lainnya. Huaaa... Saya dan hubby sempat tidak setuju karena merasa demam Asha akan hilang dengan obat penurun panas saja. Kami sempat menunda pemasangan infus dan pemberian antibiotik hingga pukul 14.00. Saat itu suhu Asha yang awalnya sudah turun, kembali naik menjadi 38,5 DC. Baiklah, kami tetapkan hati untuk mengikuti instruksi dokter yang hingga saat itu melihat wajahnya pun kami belum.

Ga tega rasanya lihat Asha yang masih lemas dan rewel dipasangin infus di lengannya. Apalagi setelah itu darahnya diambil cukup banyak untuk pemeriksaan lanjuta. Huhu.. Saya kuat2in hati dan mental saya melihat pemandangan itu. Asha menangis keras dan menjerit kesakitan saat jarum menusuk lengan mungilnya yang gendut itu. Huhuhu.. Saya hanya bisa memeluk kakinya dan membenamkan muka pada paha gendutnya yang meronta-ronta karena saya tidak sanggup melihat wajah sedihnya yang menangis dan memandang saya dengan tatapan kesakitan dan minta tolong. Hueee... 

Hubby sendiri, dia lebih tidak tega daripada saya. Saat Asha dipasang infus dan diambil darah, dia pamit untuk solat di mushola karena dia tidak akan tega melihat Asha menangis kesakitan. Huhu.. Saya pun ga tega, tapi saya harus tetap kuat berada disamping Asha untuk menemaninya, memeluknya, dan membisikkan kalimat, "Asha kuat, Asha kuat" berulang-ulang. Setelah infus terpasang, Asha yang masih sesenggukan saya peluk erat2. Ingin rasanya menggantikan semua kesakitan yang dia alami agar berpindah ke tubuh ku saja. Huhu...

Infus sudah terpasang pada punggung tangan kirinya yang gendut dan mungil. Setelah tangisnya reda, Asha mulai curious dengan alat yang terpasang ditangannya. Dia mulai mengangkat tangannya, memperhatikannya, dan memasukkannya ke dalam mulut. Hehe.. Lucu melihatnya tingkahnya, tapi sedih juga karena mukanya masih lemes dan tatapan matanya sayu.

Sore hari, sekitar magrib, si DSA baru datang. Huaahh.. Cuma nanya2 dikit sambil elus2 kepala Asha dan tidak memberikan informasi what so ever! Dia cuma bilang, nanti kita pantau yaa.. What the hell?? Sungguh saya dan hubby bete mampus deh sama DSA ini. Pengen ganti sama DSA yang biasa tapi mengurungkan niat.

Hari itu, pengobatan Asha adalah cairan infus, Sanmol tiap 4 jam sekali, Stesolid 3 kali sehari, dan Taxegram via infus 3 kali sehari. Hati saya sungguh menjerit dengan kondisi ini. Hati saya merasa Asha tidak perlu diberikan Antibiotik itu. Hati saya merasa obat yang diberikan pada Asha kebanyakan. Saya yang seorang apoteker yang tidak praktek di apotek, cuma bisa nrimo. Saya merasa bodoh. Tapi saya juga tidak mau bila penyembuhan Asha terhabat gara2 saya protes sana-sini. Jadi saya cuma bisa curhat sama hubby. Hiks.. Walaupun segala obat2an itu sudah masuk ke tubuh Asha, tapi demam Asha masih belum turun. Suhu tubuhnya masih naik turun. Huhu.. Menjelang malam, baru lah suhu tubuhnya perlahan-lahan mulai konstan di bawah 38 DC.

Selama menemani Asha, saya browsing sana-sini cari informasi mengenai penyakit Asha. Karena sampai saat itu belum diketahui apa sakitnya. Informasi pertama yang saya dapat adalah kejang demam. Sepertinya Asha mengalami kejang diakibatkan demam. Kejang demam ini sifatnya menurun, kebetulan saya dan hubby waktu kecil pernah mengalami kejang demam. Jadi "bakat" kejang demam Asha ini nampaknya berasal dari kedua orangtuanya. Hiks..

Selanjutnya saya googling dengan kata kunci demam naik turun dan ubun-ubun menonjol. Karena siang itu, ibu bilang kalo ubun-ubun Asha ko kayanya menonjol ya? Saya awalnya ga nyadar, tapi setelah diperhatikan, ternyata memang iya. Tuhan.. Kenapa lagi ini? Ibu bilang, "Kemaren juga dokter kan lama usap-usap kepala Asha. Mungkin udah keliatan menonjol". Degg.. Saya langsung tegang deh dibilangin gitu sama ibu. Oh berarti semalem dokter usap-usap kepala Asha tuh karena dia merasa ada tonjolan di ubun2nya?? Ko dia ga bilang apa2?? Ga bilang kalo saya harus observasi ubun2nnya atau kasih info apalah. Dokter aneh!

Daaann hasil gooling dengan kata kunci  demam naik turun dan ubun-ubun menonjol adalah, jeeng jeeeeeennggg.. Keluar informasi tentang meningitis, blablabla. Langsung dingin sekujur badan dan panik dan takut dan khawatir. Saya coba baca satu-satu artikelnya. Tapi dalam hati saya yakin, bukan itu penyakit Asha. Saya yakin kejang Asha bukan karena meningitis what so ever, tapi karena kejang demam. Ubun-ubun Asha yang menonjol juga bukan karena ada sesuatu di kepalanya, tapi karena demam. Walau demikian kekhawatiran itu masih ada. Huhuhuhuhu...

Keesokan harinya, Senin 1 juli 2012, dokter ruangan dan suster datang ke ruangan. Si dokter bilang bahwa DSA nya Asha menginstruksikan Asha untuk di CT Scan karena ada tonjolan di ubun2nya. Ada kekhawatiran ke arah infeksi di kepala what so ever, jadi perlu CT Scan untuk memastikan. Saya dan hubby lirik2an dan kami pun menyerah saja ikut saran dokter. Mental dan pikiran kami sudah terlalu lelah sejak beberapa hari ini, dan kami ingin segera memastikan apa yang terjadi pada Asha. Hari itu pengobatan Asha ditambah 1 lagi, yaitu antibitok Bactesin untuk mencegah kemungkinan infeksi di daerah otak. Hiks.. Padahal deep inside my heart, i was sure that it's not necessary. But still i said nothing dan nurut2 aja. Hari itu pula Asha di CT Scan. Asha saya gendong dalam pelukan dan kami berdua dibawa ke ruang radiologi menggunakan kursi roda yang didorong oleh suster. Kondisi Asha masih lemas, dengan infusan di lengannya, seorang bayi mungil yang masih terlalu kecil untuk mengalami semua kondisi ini. Huhu.. Asha pun sukses menjadi tontonan orang-orang yang kami lewati. Saya juga kalo liat pemandangan seperti itu pasti akan memandang iba pada bayi mungil yang harus diinfus dan kondisinya lemas begitu. 

Saya masuk ke dalam ruangan radiologi, menemani Asha. Sementara hubby, ibu, dan saat itu ada adik saya, mereka menunggu di luar. Ruangan itu dingin dan kosong, hanya berisi satu alat CT Scan yang sangat besar. Huhuhu.. Memikirkan Asha harus ditaruh di alat seperti itu, tak kuat rasanya hati ini. Tapi sekali lagi, saya harus kuat untuk Asha. Kalo saya ga kuat, siapa lagi yang akan menjaganya? Saya memakai baju khusus yang beratnyaaaa banget banget, sementara Asha dibaringkan di kasur khusus hanya memakai baju RS yang tipis dan diaper tanpa celana, kemudian dia diselimuti oleh selimut khusus. Asha sangat kooperatif, dia sempat  merengek, namun selebihnya dia hanya pasrah dan diam tanpa melepaskan pandangan sayunya langsung ke mata saya. Hikss.. Peran saya disana adalah menjaga agar kepala Asha tidak gerak-gerak selama proses CT Scan berlangsung. Saya pegang dagu dan pipinya sambil saya bicara dan nyanyi macam-macam pada Asha. Saya berusaha tersenyum dan bicara dengan nada riang, walau hati ini sedih rasanya. Apalagi selama proses CT Scan sekitar 10 menit itu, Asha hanya diam memandang mata saya. Hiks.. Dia tidak peduli dengan roda ah entah apa namanya yang menyala dan beputar saat proses CT Scan berlangsung, dia hanya fokus melihat ke mata saya dan mendengarkan kata-kata saya. Huhuhu..

Proses CT Scan selesai dan kami kembali ke ruangan. Hari itu suhu Asha mulai stabil di bawah 37,5 DC dan  sudah tidak demam lagi. Tapi dari hasil pemeriksaan darah yang tiap hari dilakukan, terlihat bahwa trombosit Asha menurun setiap hari. Kecurigaan saya adalah Asha kena demam berdarah (DBD). Tapi waktu hari pertama diperiksa NS1 hasilnya negatif. Jadi apa kira2 penyebab trombosit Asha turun?

Sore hari menjelang magrib si DSA baru datang lagi. Dan menjelaskan bahwa hasil CT Scan bagus dan tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Saya dan hubby langsung lirik2an dan menghela nafas legaaaa. Alhamdulillah. Sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya, bahwa Asha baik-baik saja. Dan ubun-ubun menonjol itu disebabkan demam dan kami yakin nanti pasti kembali seperti semula. Karena hasil CT Scan bagus dan tidak ada infeksi apapun di kepala Asha, pemberian Bactesin dihentikan. Fyuuhh.. At least 1 obat yang ga perlu berhasil dicoret. Selanjutnya dia menginformasikan hasil tes darah Asha dan menyarankan untuk cek Dengue Blood pada hari Rabu untuk memastikan apakah Asha positif DBD atau tidak. Kenapa hari Rabu? Karena kalo Selasa, dikhawatirkan hasilnya masih negatif karena titer immunoglobulin Asha terhadap virus DBD nya belum banyak di dalam darah. Kalo Asha positif DBD maka semua pengobatan dihentikan, kecuali cairan infus. Karena demam Asha juga sudah berhenti, maka antibiotik tidak lagi dibutuhkan bila memang hasil Dengue Blood positif. But in the mean time, antibiotik Taxegram masih harus masuk ke tubuh Asha untuk mencegah bila ternyata DBD negatif dan penyebab demam disebabkan infeksi bakteri. Saya yang  dalam hati rasanya ingin menolak karena entah mengapa saya yakin Asha positif DBD, jadi antibiotik itu sebenarnya ga perlu sama sekali. Namun sekali lagi dengan bodohnya saya mengiyakan. Hiks.. Memang tujuan dokter untuk memberikan antibiotik pada Asha bagus, untuk tindakan preventif. Tapi tetep aja hati ini ga rela. Hari itu saya keukeuh minta sama suster untuk menghentikan pemberian Sanmol dan Stesolid pada Asha, karena demamnya udah berhenti dari semalem. Akhirnya dua obat itu berhasil dicoret lagi. Yess..

Selasa, 2 Juli 2012 pagi, Asha kembali diambil darah keempat kalinya untuk cek kadar trombositnya. Huhu.. Nangis dan jerit gerung2 dia karena kesakitan waktu jarum suntik mengambil darah dari lipatan dalam lengannya. Saya mulai kebal, bukan ga tega, tapi ini demi kepastian diagnosa dan demi kecepatan penanganan dan penyembuhan sakitnya Asha. My hubby, still he didn't have a heart to see her little girl crying, dan memilih keluar ruangan. Siang hari, hasil tes darah menyatakan trombosit Asha makin turun. Trombositnya sudah 119.000, sedangkan normalnya 150.000. Kecurigaan makin mengarah ke DBD, tapi karena belum tes Dengue Blood jadi belum pasti.

Hubby sudah dua hari cuti dari kantor, Senin Selasa. Padahal ada kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Akhirnya dengan berat hati, hari Rabu 3 Juli 2012, hubby kembali ke Jakarta. Meninggalka saya dan Asha berdua di rumah sakit. Huhu.. Saya bagaimana? Well, kantor saya sepertinya agak longgar untuk urusan begini. Jadi saya cuek aja cuti berapa hari pun sampe Asha sembuh. Ga peduli deh cuti tahunan habis dan malah harus potong gaji karena kehabisan jatah cuti. Pukul 4.00 pagi hubby pamit berangkat ke Jakarta. Sedih but i had to be strong. Rabu itu adalah jadwal Asha unutk diambil darah lagi dan cek Dengue Blood nya. Siang hari hasil tes darah menyatakan Asha positif DBD. Antara lega karena akhirnya sakit Asha ketauan dan sedih karena bayi kecilku kena DBD. Ko bukan saya atau orang lain di rumah yang kena? Kenapa harus bayi kecilku? Trombosit Asha pun turun jadi 65.000. Hiks.. Turun terus tiap harinya. 

Pengobatan Asha sekarang hanya cairan infus dan nenen yang banyak. Tapi hari itu Asha lebih banyak tidur. Saya sodor2in nen juga dia tolak. Hikss.. Sedih tapi at least cairan infus tetap masuk. Sekarang saya deg-degan nunggu apakah besok trombosit Asha akan naik atau turun? Huhu.. Pagi hari ibu datang bawain saya kurma dan jus kurma. Walau eneg karena kemanisan dan pedes (beneran loh ko pedes ya jus kurma itu?) saya paksa habisin jus kurma demi Asha. Berharap semoga dengan saya minum jus kurma Asha bisa kecipratan lewat ASI dan bisa naikin trombositnya.

Skip skip skip.. Kamis tes darah lagi, hasilnya trombosit Asha mulai naik jadi 78.000. Yeaayy.. Walau belum back to noemal, at least ada peningkatan. Saya makin rajin makan kurma dan minum jus kurma yang ibu beliin tiap hari. Asha juga udah mulai lahap minum ASI nya. Jumat tes darah lagi, trombosit Asha udah 109.000. Alhamdulillah.. Ini artinya Asha sudah boleh pulang hari itu juga. Seperti kata dokter, Asha baru boleh pulang kalo trombositnya di atas 100.000 karena dianggap aman dan kecenderungannya akan terus naik hinga normal. Hari jumat itu pun Asha sudah kembali ceria. Sudah banyak senyum, ketawa, jerit2 seneng, dan celoteh2. Pandangan matanya sudah cerah, tidak sayu lagi. Mata bulatnya memancarkan sinar kepolosan dan keceriaan lagi. Alhamdulillah.. Ashaku sudah kembali sehat. Malam itu, Jumat 6 Juli 2012 saya dan hubby yang baru datang dari Jakarta langsung membawa Asha pulang ke rumah. Drama 7 hari 6 malam di RS akhirnya selesai sudah. Ya Allah tolong jaga Asha kami. Cukup sekali ini saja dia dirawat, selanjutnya jagalah selalu kesehatan dan keselamatannya. Amin.

Asha Was Sick : The Night Strike

0 comments
My 5+ month old baby girl was sick!! Huhuhu.. I was so drained, mentaly exhausted, sad, terrible, and confuse. I lost the track of time when Asha got sick. When i came back to normal live, it's already July 9th 2012. I lost the first week of July at hospital. Didn't even realized that i missed a week inside the hospital walls that surrounded me with anxiety.

Fyuuhh.. *i need deep inhale and exhale before i start the story. So here it goes..


Jumat 28 Juni 2012 jam 6 pagi Asha bangun dan merengek minta nen. Saya yg udah siap mau berangkat kantor, ga tega ninggalin Asha kaya gitu. So i decided to breastfed her first, didn't care if i could be late because of it. Setelah Asha nen dan mulai tenang, saya pamit padanya untuk berangkat ke kantor. Sambil cium2 pipi dan wajahnya. Sempat terbersit di hati waktu melihat wajah Asha, ko di pipinya ada bentol2 merah? Perasaan semalem belum ada. Kayanya semalem Asha digigit nyamuk lagi deh. Akhirnya saya berangkat ke kantor dengan perasaan ga nyaman.


Jumat 28 Juni 2012 jam 2 siang, ibu yang hari itu kebetulan ada di rumah buat asuh Asha, sms saya dan bilang bahwa Asha anget badannya. Saya berusaha ga panik. Karena 2 minggu sebelumnya dia juga demam tanpa sebab, setelah dikasih tempra demamnya hilang. So this time i tried to be cool and told my mom to check her temperature and gave her tempra. Suhunya saat itu 38,5 derajat celcius (DC). Sempet terpikir untuk segera pulang cepat, tapi saya ga enak hati karena bentar lagi saya kan resign. Ga pengen dikira mentang-mentang mau resign jadi seenaknya. Sesampainya di rumah jam 7 malam, saya liat Asha digendong ibu pake jarit dengan lap basah di dahinya. Asha keliatan lemeess banget. Huhuhu.. Sedih saya liat keadaan Asha kaya gitu. Padahal biasanya tiap saya pulang dia pasti sedang duduk ceria di bouncer nya atau lagi digendong sambil celoteh2 dan senyum2. My heart was broke.


Setelah solat, tanpa makan dan ganti baju, saya gendong Asha dari tangan ibu dan ukur suhunya, ternyata suhunya naik jadi 39 DC. Duh Gustiii.. Akhirnya saya cekokin lagi Asha dengan tempra. Lalu saya kelonin dia dalam pelukan sambil saya paksa untuk nen. Hanya saya dan Asha berdua dalam kamar dalam posisi itu selama 2 jam. Setiap 10 menit sekali saya cek terus suhunya dan saya ganti air kompresnya. Setelah 2 jam, suhu Asha turun jadi 37,6 DC. Dia sudah terbangun dari tidurnya dan mulai berceloteh riang gembira. 


Tak lama setelah itu, hubby pulang dengan membawa tempra dan 2 lembar bye bye fever. Saya dengan gembira menceritakan bahwa demam Asha sudah turun sekarang Asha sudah kembali ceria. Hubby pun langsung menimang Asha sambil nonton TV sementara saya mengistirahatkan badan sejenak. Sekitar 1,5 jam kemudian, hubby membangunkan saya dan bilang kalo Asha demam lagi. Deeegg!! Saya pun langsung siaga dan menggendong Asha dalam pelukan. Kembali saya paksa Asha untuk nen dan tidur dalam pelukan saya. Sambil 10 menit sekali saya cek suhunya. Tapi kali ini suhunya tak kunjung turun dan Asha tertidur. Saat itu hubby memegang kaki Asha yang dingin, tidak sinkron dengan kepala dan badannya yg hangat. Maka hubby pun mencoba memakaikan kaos kaki pada Asha yg sedang tertidur. Karena merasa terganggu, Asha pun terbangun dan menangis. Saya coba hentikan tangisannya dengan menyodorkan nen tapi dia menolak. Nangisnya tidak mau berhenti dan wajahnya nampak memelas. Oh i really don't have a heart to see her cry. 


Saya pun mencoba menimangnya sambil jalan2. Ketika saya mulai beranjak dari tempat tidur, tangisnya menjerit seperti kesakitan. Saya segera periksa apakah ada bagian tubuhnya yang tanpa sengaja kegencet tubuh saya, namun semuanya nampak baik-baik saja. Saat itulah tiba2 jeritannya berubah menjadi erangan, dibarengi dengan mata nya yang tiba-tiba melotot dalam pandangan kosong, mukanya memerah, mulutnya terkatup rapat seperti menahan sesuatu, dan menurut hubby saat itu tangan dan kakinya pun mengejang kaku. Ya Tuhan, ada apa dengan Asha ku?? Saat itu saya sangat panik. Saya berjalan ke kamar ibu dan panggil2 ibu saya yg sedang tidur, "Ibuuu...ibuuu..ini Asha kenapaa??". Ibu pun segera bangun dan melihat Asha. Pemandangan Asha yg sedang kejang memang tidak lebih dari 5 detik tapi rasanya seperti bermenit2. Sungguh pemandangan paling menakutkan dalam hidup saya. Sekarang pun bila saya memejamkan mata dan mengingat wajah Asha saat itu, bergetar rasanya seluruh tubuh ini. Saya sungguh takut bila sampai terjadi sesuatu padanya. Dear God, please don't let anything bad happened to her.

Segera setelah Asha berhenti kejang saya sodorkan Asha pada gendongan ibu, saya khawatir Asha kenapa2 lagi. Dalam gendongan ibu dia langsung tertidur. Saat itu saya sedang panik cari sendok plastik. Karena ibu bilang, "Cepat cari sendok plastik, biar kalo kejang lagi yang digigit sendok nya bukan lidahnya". Saya udah kaya orang linglung. Cari sendok plastik kesana kemari ga dapet2. Akhirnya setelah dapet sendok plastik, saya instruksi hubby untuk segera manasin mobil. Karena Asha akan langsung dibawa ke RS. Lagi-lagi saya kaya orang linglung waktu nyiapin barang-barang ke dalam tas. Dan cuma sempet nyamber cardigan dan kerudung instan untuk menutupi pakaian tidur saya. Akhirnya kami berempat, hubby, saya, ibu, dan Asha segera ke RS terdekat. Saat itu sekitar pukul 11 malam. Asha yang masih tertidur digendong ibu di belakang. Saya duduk di depan menemani hubby. Sepanjang jalan kami terdiam. Saya terlalu shock untuk berbicara.

Sesampainya di IGD RS, seluruh baju Asha segera dibuka hingga tinggal diapers saja yg dipakai. Seluruh tubuhnya diseka air hangat dan diberi obat penurun panas lewat pantatnya. Karena saat itu suhunya masih 38,5 DC. Saat itu Asha diambil darah untuk diperiksa sel darah dan tes NS1. Tes NS1 adalah screening awal untuk demam berdarah. Selama 1 jam kami di IGD, suhu Asha tak kunjung turun. Padahal seharusnya obat penurun panas yang tadi diberikan lewat pantat sudah bereaksi menurunkan demamnya. Hingga hasil tes darah selesai, ternyata sel darah Asha normal dan tes NS1 pun negatif. Dokter memberi pilihan apakah akan pulang atau dirawat di RS. Karena menurut dokter, kasus demam seperti ini bisa saja dirawat di rumah. Namun kami khawatir dengan kondisi Asha yg hingga saat itu demamnya tak kunjung reda dan memutuskan agar Asha dirawat saja di RS. Saat itu saya pikir paling butuh 1-2 hari dirawat di RS. Jadilah pagi itu, Sabtu 30 Juni 2012 pukul 01.30 Asha masuk kamar perawatan 315a RS Hermina Arcamanik untuk dirawat.

Tuesday, June 26, 2012

Asha The Paper Crusher

0 comments
Asha is 5+ month old now. She had new toy. It's paper. How she loves to twist and crush the paper with her tiny hands. And she loves the sound when she crushes the paper. I just sit her on the bed, give her the paper, and she was busy playing with her new toy :D

 My baby girl sits on pillow and busy playing with her paper


Haha.. :D

This time Asha practises to grip and crush paper. Next, she'll learn how to grip and crush food. Hehe..



Monday, June 25, 2012

Asha And Nay

0 comments
Last weekend Asha visited her niece, her name is Nayla, we called her Nay. She is 7 months old, 2 months older than Asha. Nay is a big baby girl, when i put Asha next to her, Asha looked tiny. All this time me and hubby always thought that Asha is big already, but we're wrong, she's still our little baby girl (and will always be) Hehe.. :D

We laid Asha and Nay side to side on the bed, while i chatted with my niece. We didn't notice at first that the babies were trying to reach each other. The babies were curious to each other, they were staring and tried to reach each other hands. When suddenly they were holding hands and didn't let go. When Nay lost her hold, Asha tried to reach back. And they were holding hands again. Aww..too sweet.. :D

Lucky that i could capture the moment,

Asha 5+m and Nay 7+m : let's holding hand,sis :)

I want to share a little story about Nay. She lives with her grandma, grandpa, and aunty that comes 4 days a week. Her mom, dad, and her 3 years old brother live in other town, because the parent work there. Nay drinks formulated milk since born. Her mom and brother visit her once in two weeks, while her dad visits her once in a month. I feel sorry to know that Nay is closer and more comfortable to her grandparent rather to her parent. Nay cries whenever she meets new people. She feels uncomfortable with new people around her, it takes sometime for her to get used to with new people. When i hold her, she sobbed. Ohh poor little girl. She doesn't used to meet alot of people, because everyday she only meets her grandma, grandpa, and her aunt sometime. Thankfully the grandparent love Nay so much and give the best they could to nurture her. Nay looks happy and healthy under grandparent supervision. The situation forces Nay to live separately from her parent. I pray the best for her and the family, hope that they can reunited soon. 

I feel lucky that i can see and kiss and hug and hold and breastfeed Asha everyday, although i have to leave her 6-7. I hope i able to be with her 24-7, together with hubby too. Soon.



Monday, June 11, 2012

Ashandul

0 comments
Asha is 5 months today. She babbles alot, screams alot, smiles and laughs alot, eating her fingers, grabbing toys, lifting her neck, and doing other thing that makes me amaze. She is my sunshine that brights my day. Now she even more shiny than before because of her bald head :D

Actually she had her hair shaved couple weeks ago when i took her to hospital. It cost IDR 65.000 to shaved her almost bald head into the real bald head!

My husband could have 6,5 times hair cut at barber shop with IDR 65.000. My oh my.. But at least the hospital used electric razor only to shave baby's hair. If i took Asha to barber shop, it would cost IDR 7.000 but they used the same  razor to shave old men's hair and other men's beard. Oh nooooo!!!!  >__<

This is Asha with her new hair(less),

My beautiful Ashandul :)

Be kind, be beautiful as always my lovely baby girl. Mommy and daddy always love you.



Showing posts with label 5 months. Show all posts
Showing posts with label 5 months. Show all posts

Asha Loves Tomato

Asha started her first meal 5 days earlier before she's 6 months old. Hehe.. It was me who had the idea to give early meal to Asha. Naughty mommy!

We (me and Asha) were at hospital that day, Friday July 5th 2012. Asha was already fit that day, we were waiting for doctor for final visit and waiting hubby to pick us up. That morning i ordered sandwiches for breakfast *by the way they served delicious nutritious sandwiches i ever tasted. There were tomatos slices on it. Somehow i took the tomato slices, cut it in long shape, remove the seed, and handed it to Asha. Hihihi.. >:-)

She grabbed the slippery tomato slice, looked at it curiously, and it took sometimes for her until she put it in her mouth. Haha..  But then the tomato slice slipped from her hand. And that was it, she refused to grabbed it and preffered to throw it. Sighh.. She wasn't interested yet in her meal.

But i was so curious to see her reaction if i put the tomato in her mouth. So i put the tomato inside her mouth, she began to sip it. My God her face when she sipped the tomato was priceless! At first she was surprised, curious and astonished at the same time. She stopped a while and began to laugh and scream. Ooww..she loved it! :D She began to take another sip of tomato. She sipped it almost all the way through, if i didn't hold the tomato i think she already eat the whole slice. Hihi.. At the end she only eat half slice because i think it was enough for meal trial. The conclucion was, she loved tomato! :D

At noon when she poo, there were tomato skin left on her poo. Haha.. Good girl! You made it!


Asha Was Sick : Medical Encounter

My baby girl Asha dirawat di RS Hermina Arcamanik Bandung sejak hari Sabtu tanggal 30 Juni 2012. Asha yang saat itu berada dalam gendongan ibu dibawa dari ruang IDG ke ruang perawatan menggunakan kursi roda yang didorong oleh suster. Kami tiba di ruang perawatan 315a pukul 01.30. Asha berbagi ruangan dengan satu pasien lain yang sudah lebih dulu menempati ruang 315b.

Asha mulai rewel sejak pertama masuk ke dalam ruangan. Dia menangis dan merengek walau sudah kami gendong. Huhu.. Sedih sekali melihat Asha seperti itu. Saya, hubby, dan ibu bergantian menggendong Asha dan berusaha meredakan tangisnya. Saat itu demam Asha belum reda juga sehingga kami masih meletakkan kain kompres di dahinya. Sesaat setelah Asha tenang dan mulai tertidur, hubby pamit untuk mengantarkan ibu kembali ke rumah dan mengambil beberapa barang yang diperlukan. Saya pun meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk Asha yang mulai tertidur. Ada rasa takut dan khawatir ditinggal sendirian saja dengan Asha. Tapi saya berusaha tegar demi Asha. Lagipula ada suster yang selalu bolak-balik mengecek suhu dan kondisi Asha. 

Sambil menunggu hubby kembali, saya terus menerus mengecek suhu Asha dan mengganti air kompresan. Malam itu Asha tidak bisa tidur nyenyak. Pasien di ruang 315b juga masih anak-anak. Beberapa kali dia sempat merengek dan suaranya membangunkan Asha. Menyebabkan Asha terbangun dari tidurnya dan menangis lebih keras dan lebih lama. Sementara pasien sebelah melanjutkan tidurnya, Asha masih merengek dan menangis. Saya dan hubby bergantian menimang Asha, mencoba menenangkannya. Saat Asha mulai berhasil tertidur, pasien sebelah kembali merengek. Duuh... Asha kembali terbangun, merengek dan menangis lebih lama dan lebih keras. Sedangkan pasien sebelah kembali melanjutkan tidurnya. Terus begitu sepanjang malam. Hueeeee.. Saya dan hubby mulai kelelahan. 

Malam yang terasa panjang akhirnya berhasil kami lalui dengan cara bergantian menjaga Asha dan mencuri sedikit waktu untuk sejenak memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuh yang lelah. Hingga pagi tiba, Minggu 31 Juni 2012, demam Asha masih dikisaran 38,5 derajat celcius (DC). Pagi-pagi suster datang dan mengecek suhu Asha yang masih demam. Jadwal pagi itu adalah menyeka tubuh Asha sebagai pengganti mandi pagi dan berharap agar demamnya dapat turun. Asha menangis selama tubuhnya diseka. Aku sedih melihatnya. Berasa melihat Asha sedang disiksa. Huhu.. Ajaibnya setelah diseka suhu Asha turun jadi 35,8 DC. Tapi efek nya tidak bertahan lama, tak lama kemudian tubuhnya kembali demam mencapai 38,5 DC. Hiks..

Tiap 4 jam sekali suster memberikan Sanmol (Parasetamol) untuk menurunkan demam Asha. Tentu saja Asha menangis dan berteriak saat suster mencekokinya dengan Sanmol itu. Huhu.. Asha sampe terbatuk2 dan hampir keselek saat dia menelan obatnya. Efek Sanmol dalam menurunkan demam Asha hanya bertahan1-2 jam. Setelah itu suhu Asha kembali naik di kisaran 38,5 DC. Huhu.. Minum obat lagi, suhu turun lagi, 1-2 jam kemudian suhu naik lagi, siklusnya terus berulang. Selain Sanmol, Asha pun minum Stesolid (Diazepam) 3 kali sehari sebagai obat anti kejangnya. Karena selama masih ada demam maka potensi untuk kejang masih ada. Stesolid diberikan sebagi tindakan preventif terhadap kejang.

Hingga siang hari, dokter anak yang bertanggung jawab terhadap Asha belum juga datang. Damn! Saya sebel banget, dari tengah belum ada dokter yang visit Asha. Awalnya saya berencana mengunakan jasa DSA (dokter spesialis anak) yg menangani Asha sejak lahir di RS itu. Tapi kebetulan saat itu beliau sedang cuti. Hikss.. Alhasil saya pake sembarang DSA yang katanya jaga saat itu. Tapi manaaaa? Kami sudah tunggu sejak malam, tapi si dokter ga nongol juga. Itu salah saya karena pilih DSA sembarangan!!! Lain kali saya ga mau lagi kaya gitu. Lain kali saya harus punya DSA cadangan yang cocok dan sesuai buat kami. 

Selepas jam 12 siang itu, suster beserta dokter ruangan (akhirnya ada juga dokter yang visit, walau dia dokter umum) menginformasikan pada kami bahwa si DSA menginstruksikan lewat telpon agar Asha diinfus dan diberi antibiotik Taxegram (Cefotaxim). Oh serta diambil darah lagi untuk pemeriksaan darah lainnya. Huaaa... Saya dan hubby sempat tidak setuju karena merasa demam Asha akan hilang dengan obat penurun panas saja. Kami sempat menunda pemasangan infus dan pemberian antibiotik hingga pukul 14.00. Saat itu suhu Asha yang awalnya sudah turun, kembali naik menjadi 38,5 DC. Baiklah, kami tetapkan hati untuk mengikuti instruksi dokter yang hingga saat itu melihat wajahnya pun kami belum.

Ga tega rasanya lihat Asha yang masih lemas dan rewel dipasangin infus di lengannya. Apalagi setelah itu darahnya diambil cukup banyak untuk pemeriksaan lanjuta. Huhu.. Saya kuat2in hati dan mental saya melihat pemandangan itu. Asha menangis keras dan menjerit kesakitan saat jarum menusuk lengan mungilnya yang gendut itu. Huhuhu.. Saya hanya bisa memeluk kakinya dan membenamkan muka pada paha gendutnya yang meronta-ronta karena saya tidak sanggup melihat wajah sedihnya yang menangis dan memandang saya dengan tatapan kesakitan dan minta tolong. Hueee... 

Hubby sendiri, dia lebih tidak tega daripada saya. Saat Asha dipasang infus dan diambil darah, dia pamit untuk solat di mushola karena dia tidak akan tega melihat Asha menangis kesakitan. Huhu.. Saya pun ga tega, tapi saya harus tetap kuat berada disamping Asha untuk menemaninya, memeluknya, dan membisikkan kalimat, "Asha kuat, Asha kuat" berulang-ulang. Setelah infus terpasang, Asha yang masih sesenggukan saya peluk erat2. Ingin rasanya menggantikan semua kesakitan yang dia alami agar berpindah ke tubuh ku saja. Huhu...

Infus sudah terpasang pada punggung tangan kirinya yang gendut dan mungil. Setelah tangisnya reda, Asha mulai curious dengan alat yang terpasang ditangannya. Dia mulai mengangkat tangannya, memperhatikannya, dan memasukkannya ke dalam mulut. Hehe.. Lucu melihatnya tingkahnya, tapi sedih juga karena mukanya masih lemes dan tatapan matanya sayu.

Sore hari, sekitar magrib, si DSA baru datang. Huaahh.. Cuma nanya2 dikit sambil elus2 kepala Asha dan tidak memberikan informasi what so ever! Dia cuma bilang, nanti kita pantau yaa.. What the hell?? Sungguh saya dan hubby bete mampus deh sama DSA ini. Pengen ganti sama DSA yang biasa tapi mengurungkan niat.

Hari itu, pengobatan Asha adalah cairan infus, Sanmol tiap 4 jam sekali, Stesolid 3 kali sehari, dan Taxegram via infus 3 kali sehari. Hati saya sungguh menjerit dengan kondisi ini. Hati saya merasa Asha tidak perlu diberikan Antibiotik itu. Hati saya merasa obat yang diberikan pada Asha kebanyakan. Saya yang seorang apoteker yang tidak praktek di apotek, cuma bisa nrimo. Saya merasa bodoh. Tapi saya juga tidak mau bila penyembuhan Asha terhabat gara2 saya protes sana-sini. Jadi saya cuma bisa curhat sama hubby. Hiks.. Walaupun segala obat2an itu sudah masuk ke tubuh Asha, tapi demam Asha masih belum turun. Suhu tubuhnya masih naik turun. Huhu.. Menjelang malam, baru lah suhu tubuhnya perlahan-lahan mulai konstan di bawah 38 DC.

Selama menemani Asha, saya browsing sana-sini cari informasi mengenai penyakit Asha. Karena sampai saat itu belum diketahui apa sakitnya. Informasi pertama yang saya dapat adalah kejang demam. Sepertinya Asha mengalami kejang diakibatkan demam. Kejang demam ini sifatnya menurun, kebetulan saya dan hubby waktu kecil pernah mengalami kejang demam. Jadi "bakat" kejang demam Asha ini nampaknya berasal dari kedua orangtuanya. Hiks..

Selanjutnya saya googling dengan kata kunci demam naik turun dan ubun-ubun menonjol. Karena siang itu, ibu bilang kalo ubun-ubun Asha ko kayanya menonjol ya? Saya awalnya ga nyadar, tapi setelah diperhatikan, ternyata memang iya. Tuhan.. Kenapa lagi ini? Ibu bilang, "Kemaren juga dokter kan lama usap-usap kepala Asha. Mungkin udah keliatan menonjol". Degg.. Saya langsung tegang deh dibilangin gitu sama ibu. Oh berarti semalem dokter usap-usap kepala Asha tuh karena dia merasa ada tonjolan di ubun2nya?? Ko dia ga bilang apa2?? Ga bilang kalo saya harus observasi ubun2nnya atau kasih info apalah. Dokter aneh!

Daaann hasil gooling dengan kata kunci  demam naik turun dan ubun-ubun menonjol adalah, jeeng jeeeeeennggg.. Keluar informasi tentang meningitis, blablabla. Langsung dingin sekujur badan dan panik dan takut dan khawatir. Saya coba baca satu-satu artikelnya. Tapi dalam hati saya yakin, bukan itu penyakit Asha. Saya yakin kejang Asha bukan karena meningitis what so ever, tapi karena kejang demam. Ubun-ubun Asha yang menonjol juga bukan karena ada sesuatu di kepalanya, tapi karena demam. Walau demikian kekhawatiran itu masih ada. Huhuhuhuhu...

Keesokan harinya, Senin 1 juli 2012, dokter ruangan dan suster datang ke ruangan. Si dokter bilang bahwa DSA nya Asha menginstruksikan Asha untuk di CT Scan karena ada tonjolan di ubun2nya. Ada kekhawatiran ke arah infeksi di kepala what so ever, jadi perlu CT Scan untuk memastikan. Saya dan hubby lirik2an dan kami pun menyerah saja ikut saran dokter. Mental dan pikiran kami sudah terlalu lelah sejak beberapa hari ini, dan kami ingin segera memastikan apa yang terjadi pada Asha. Hari itu pengobatan Asha ditambah 1 lagi, yaitu antibitok Bactesin untuk mencegah kemungkinan infeksi di daerah otak. Hiks.. Padahal deep inside my heart, i was sure that it's not necessary. But still i said nothing dan nurut2 aja. Hari itu pula Asha di CT Scan. Asha saya gendong dalam pelukan dan kami berdua dibawa ke ruang radiologi menggunakan kursi roda yang didorong oleh suster. Kondisi Asha masih lemas, dengan infusan di lengannya, seorang bayi mungil yang masih terlalu kecil untuk mengalami semua kondisi ini. Huhu.. Asha pun sukses menjadi tontonan orang-orang yang kami lewati. Saya juga kalo liat pemandangan seperti itu pasti akan memandang iba pada bayi mungil yang harus diinfus dan kondisinya lemas begitu. 

Saya masuk ke dalam ruangan radiologi, menemani Asha. Sementara hubby, ibu, dan saat itu ada adik saya, mereka menunggu di luar. Ruangan itu dingin dan kosong, hanya berisi satu alat CT Scan yang sangat besar. Huhuhu.. Memikirkan Asha harus ditaruh di alat seperti itu, tak kuat rasanya hati ini. Tapi sekali lagi, saya harus kuat untuk Asha. Kalo saya ga kuat, siapa lagi yang akan menjaganya? Saya memakai baju khusus yang beratnyaaaa banget banget, sementara Asha dibaringkan di kasur khusus hanya memakai baju RS yang tipis dan diaper tanpa celana, kemudian dia diselimuti oleh selimut khusus. Asha sangat kooperatif, dia sempat  merengek, namun selebihnya dia hanya pasrah dan diam tanpa melepaskan pandangan sayunya langsung ke mata saya. Hikss.. Peran saya disana adalah menjaga agar kepala Asha tidak gerak-gerak selama proses CT Scan berlangsung. Saya pegang dagu dan pipinya sambil saya bicara dan nyanyi macam-macam pada Asha. Saya berusaha tersenyum dan bicara dengan nada riang, walau hati ini sedih rasanya. Apalagi selama proses CT Scan sekitar 10 menit itu, Asha hanya diam memandang mata saya. Hiks.. Dia tidak peduli dengan roda ah entah apa namanya yang menyala dan beputar saat proses CT Scan berlangsung, dia hanya fokus melihat ke mata saya dan mendengarkan kata-kata saya. Huhuhu..

Proses CT Scan selesai dan kami kembali ke ruangan. Hari itu suhu Asha mulai stabil di bawah 37,5 DC dan  sudah tidak demam lagi. Tapi dari hasil pemeriksaan darah yang tiap hari dilakukan, terlihat bahwa trombosit Asha menurun setiap hari. Kecurigaan saya adalah Asha kena demam berdarah (DBD). Tapi waktu hari pertama diperiksa NS1 hasilnya negatif. Jadi apa kira2 penyebab trombosit Asha turun?

Sore hari menjelang magrib si DSA baru datang lagi. Dan menjelaskan bahwa hasil CT Scan bagus dan tidak ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Saya dan hubby langsung lirik2an dan menghela nafas legaaaa. Alhamdulillah. Sesuai dengan perkiraan kami sebelumnya, bahwa Asha baik-baik saja. Dan ubun-ubun menonjol itu disebabkan demam dan kami yakin nanti pasti kembali seperti semula. Karena hasil CT Scan bagus dan tidak ada infeksi apapun di kepala Asha, pemberian Bactesin dihentikan. Fyuuhh.. At least 1 obat yang ga perlu berhasil dicoret. Selanjutnya dia menginformasikan hasil tes darah Asha dan menyarankan untuk cek Dengue Blood pada hari Rabu untuk memastikan apakah Asha positif DBD atau tidak. Kenapa hari Rabu? Karena kalo Selasa, dikhawatirkan hasilnya masih negatif karena titer immunoglobulin Asha terhadap virus DBD nya belum banyak di dalam darah. Kalo Asha positif DBD maka semua pengobatan dihentikan, kecuali cairan infus. Karena demam Asha juga sudah berhenti, maka antibiotik tidak lagi dibutuhkan bila memang hasil Dengue Blood positif. But in the mean time, antibiotik Taxegram masih harus masuk ke tubuh Asha untuk mencegah bila ternyata DBD negatif dan penyebab demam disebabkan infeksi bakteri. Saya yang  dalam hati rasanya ingin menolak karena entah mengapa saya yakin Asha positif DBD, jadi antibiotik itu sebenarnya ga perlu sama sekali. Namun sekali lagi dengan bodohnya saya mengiyakan. Hiks.. Memang tujuan dokter untuk memberikan antibiotik pada Asha bagus, untuk tindakan preventif. Tapi tetep aja hati ini ga rela. Hari itu saya keukeuh minta sama suster untuk menghentikan pemberian Sanmol dan Stesolid pada Asha, karena demamnya udah berhenti dari semalem. Akhirnya dua obat itu berhasil dicoret lagi. Yess..

Selasa, 2 Juli 2012 pagi, Asha kembali diambil darah keempat kalinya untuk cek kadar trombositnya. Huhu.. Nangis dan jerit gerung2 dia karena kesakitan waktu jarum suntik mengambil darah dari lipatan dalam lengannya. Saya mulai kebal, bukan ga tega, tapi ini demi kepastian diagnosa dan demi kecepatan penanganan dan penyembuhan sakitnya Asha. My hubby, still he didn't have a heart to see her little girl crying, dan memilih keluar ruangan. Siang hari, hasil tes darah menyatakan trombosit Asha makin turun. Trombositnya sudah 119.000, sedangkan normalnya 150.000. Kecurigaan makin mengarah ke DBD, tapi karena belum tes Dengue Blood jadi belum pasti.

Hubby sudah dua hari cuti dari kantor, Senin Selasa. Padahal ada kerjaan menunggu untuk diselesaikan. Akhirnya dengan berat hati, hari Rabu 3 Juli 2012, hubby kembali ke Jakarta. Meninggalka saya dan Asha berdua di rumah sakit. Huhu.. Saya bagaimana? Well, kantor saya sepertinya agak longgar untuk urusan begini. Jadi saya cuek aja cuti berapa hari pun sampe Asha sembuh. Ga peduli deh cuti tahunan habis dan malah harus potong gaji karena kehabisan jatah cuti. Pukul 4.00 pagi hubby pamit berangkat ke Jakarta. Sedih but i had to be strong. Rabu itu adalah jadwal Asha unutk diambil darah lagi dan cek Dengue Blood nya. Siang hari hasil tes darah menyatakan Asha positif DBD. Antara lega karena akhirnya sakit Asha ketauan dan sedih karena bayi kecilku kena DBD. Ko bukan saya atau orang lain di rumah yang kena? Kenapa harus bayi kecilku? Trombosit Asha pun turun jadi 65.000. Hiks.. Turun terus tiap harinya. 

Pengobatan Asha sekarang hanya cairan infus dan nenen yang banyak. Tapi hari itu Asha lebih banyak tidur. Saya sodor2in nen juga dia tolak. Hikss.. Sedih tapi at least cairan infus tetap masuk. Sekarang saya deg-degan nunggu apakah besok trombosit Asha akan naik atau turun? Huhu.. Pagi hari ibu datang bawain saya kurma dan jus kurma. Walau eneg karena kemanisan dan pedes (beneran loh ko pedes ya jus kurma itu?) saya paksa habisin jus kurma demi Asha. Berharap semoga dengan saya minum jus kurma Asha bisa kecipratan lewat ASI dan bisa naikin trombositnya.

Skip skip skip.. Kamis tes darah lagi, hasilnya trombosit Asha mulai naik jadi 78.000. Yeaayy.. Walau belum back to noemal, at least ada peningkatan. Saya makin rajin makan kurma dan minum jus kurma yang ibu beliin tiap hari. Asha juga udah mulai lahap minum ASI nya. Jumat tes darah lagi, trombosit Asha udah 109.000. Alhamdulillah.. Ini artinya Asha sudah boleh pulang hari itu juga. Seperti kata dokter, Asha baru boleh pulang kalo trombositnya di atas 100.000 karena dianggap aman dan kecenderungannya akan terus naik hinga normal. Hari jumat itu pun Asha sudah kembali ceria. Sudah banyak senyum, ketawa, jerit2 seneng, dan celoteh2. Pandangan matanya sudah cerah, tidak sayu lagi. Mata bulatnya memancarkan sinar kepolosan dan keceriaan lagi. Alhamdulillah.. Ashaku sudah kembali sehat. Malam itu, Jumat 6 Juli 2012 saya dan hubby yang baru datang dari Jakarta langsung membawa Asha pulang ke rumah. Drama 7 hari 6 malam di RS akhirnya selesai sudah. Ya Allah tolong jaga Asha kami. Cukup sekali ini saja dia dirawat, selanjutnya jagalah selalu kesehatan dan keselamatannya. Amin.

Asha Was Sick : The Night Strike

My 5+ month old baby girl was sick!! Huhuhu.. I was so drained, mentaly exhausted, sad, terrible, and confuse. I lost the track of time when Asha got sick. When i came back to normal live, it's already July 9th 2012. I lost the first week of July at hospital. Didn't even realized that i missed a week inside the hospital walls that surrounded me with anxiety.

Fyuuhh.. *i need deep inhale and exhale before i start the story. So here it goes..


Jumat 28 Juni 2012 jam 6 pagi Asha bangun dan merengek minta nen. Saya yg udah siap mau berangkat kantor, ga tega ninggalin Asha kaya gitu. So i decided to breastfed her first, didn't care if i could be late because of it. Setelah Asha nen dan mulai tenang, saya pamit padanya untuk berangkat ke kantor. Sambil cium2 pipi dan wajahnya. Sempat terbersit di hati waktu melihat wajah Asha, ko di pipinya ada bentol2 merah? Perasaan semalem belum ada. Kayanya semalem Asha digigit nyamuk lagi deh. Akhirnya saya berangkat ke kantor dengan perasaan ga nyaman.


Jumat 28 Juni 2012 jam 2 siang, ibu yang hari itu kebetulan ada di rumah buat asuh Asha, sms saya dan bilang bahwa Asha anget badannya. Saya berusaha ga panik. Karena 2 minggu sebelumnya dia juga demam tanpa sebab, setelah dikasih tempra demamnya hilang. So this time i tried to be cool and told my mom to check her temperature and gave her tempra. Suhunya saat itu 38,5 derajat celcius (DC). Sempet terpikir untuk segera pulang cepat, tapi saya ga enak hati karena bentar lagi saya kan resign. Ga pengen dikira mentang-mentang mau resign jadi seenaknya. Sesampainya di rumah jam 7 malam, saya liat Asha digendong ibu pake jarit dengan lap basah di dahinya. Asha keliatan lemeess banget. Huhuhu.. Sedih saya liat keadaan Asha kaya gitu. Padahal biasanya tiap saya pulang dia pasti sedang duduk ceria di bouncer nya atau lagi digendong sambil celoteh2 dan senyum2. My heart was broke.


Setelah solat, tanpa makan dan ganti baju, saya gendong Asha dari tangan ibu dan ukur suhunya, ternyata suhunya naik jadi 39 DC. Duh Gustiii.. Akhirnya saya cekokin lagi Asha dengan tempra. Lalu saya kelonin dia dalam pelukan sambil saya paksa untuk nen. Hanya saya dan Asha berdua dalam kamar dalam posisi itu selama 2 jam. Setiap 10 menit sekali saya cek terus suhunya dan saya ganti air kompresnya. Setelah 2 jam, suhu Asha turun jadi 37,6 DC. Dia sudah terbangun dari tidurnya dan mulai berceloteh riang gembira. 


Tak lama setelah itu, hubby pulang dengan membawa tempra dan 2 lembar bye bye fever. Saya dengan gembira menceritakan bahwa demam Asha sudah turun sekarang Asha sudah kembali ceria. Hubby pun langsung menimang Asha sambil nonton TV sementara saya mengistirahatkan badan sejenak. Sekitar 1,5 jam kemudian, hubby membangunkan saya dan bilang kalo Asha demam lagi. Deeegg!! Saya pun langsung siaga dan menggendong Asha dalam pelukan. Kembali saya paksa Asha untuk nen dan tidur dalam pelukan saya. Sambil 10 menit sekali saya cek suhunya. Tapi kali ini suhunya tak kunjung turun dan Asha tertidur. Saat itu hubby memegang kaki Asha yang dingin, tidak sinkron dengan kepala dan badannya yg hangat. Maka hubby pun mencoba memakaikan kaos kaki pada Asha yg sedang tertidur. Karena merasa terganggu, Asha pun terbangun dan menangis. Saya coba hentikan tangisannya dengan menyodorkan nen tapi dia menolak. Nangisnya tidak mau berhenti dan wajahnya nampak memelas. Oh i really don't have a heart to see her cry. 


Saya pun mencoba menimangnya sambil jalan2. Ketika saya mulai beranjak dari tempat tidur, tangisnya menjerit seperti kesakitan. Saya segera periksa apakah ada bagian tubuhnya yang tanpa sengaja kegencet tubuh saya, namun semuanya nampak baik-baik saja. Saat itulah tiba2 jeritannya berubah menjadi erangan, dibarengi dengan mata nya yang tiba-tiba melotot dalam pandangan kosong, mukanya memerah, mulutnya terkatup rapat seperti menahan sesuatu, dan menurut hubby saat itu tangan dan kakinya pun mengejang kaku. Ya Tuhan, ada apa dengan Asha ku?? Saat itu saya sangat panik. Saya berjalan ke kamar ibu dan panggil2 ibu saya yg sedang tidur, "Ibuuu...ibuuu..ini Asha kenapaa??". Ibu pun segera bangun dan melihat Asha. Pemandangan Asha yg sedang kejang memang tidak lebih dari 5 detik tapi rasanya seperti bermenit2. Sungguh pemandangan paling menakutkan dalam hidup saya. Sekarang pun bila saya memejamkan mata dan mengingat wajah Asha saat itu, bergetar rasanya seluruh tubuh ini. Saya sungguh takut bila sampai terjadi sesuatu padanya. Dear God, please don't let anything bad happened to her.

Segera setelah Asha berhenti kejang saya sodorkan Asha pada gendongan ibu, saya khawatir Asha kenapa2 lagi. Dalam gendongan ibu dia langsung tertidur. Saat itu saya sedang panik cari sendok plastik. Karena ibu bilang, "Cepat cari sendok plastik, biar kalo kejang lagi yang digigit sendok nya bukan lidahnya". Saya udah kaya orang linglung. Cari sendok plastik kesana kemari ga dapet2. Akhirnya setelah dapet sendok plastik, saya instruksi hubby untuk segera manasin mobil. Karena Asha akan langsung dibawa ke RS. Lagi-lagi saya kaya orang linglung waktu nyiapin barang-barang ke dalam tas. Dan cuma sempet nyamber cardigan dan kerudung instan untuk menutupi pakaian tidur saya. Akhirnya kami berempat, hubby, saya, ibu, dan Asha segera ke RS terdekat. Saat itu sekitar pukul 11 malam. Asha yang masih tertidur digendong ibu di belakang. Saya duduk di depan menemani hubby. Sepanjang jalan kami terdiam. Saya terlalu shock untuk berbicara.

Sesampainya di IGD RS, seluruh baju Asha segera dibuka hingga tinggal diapers saja yg dipakai. Seluruh tubuhnya diseka air hangat dan diberi obat penurun panas lewat pantatnya. Karena saat itu suhunya masih 38,5 DC. Saat itu Asha diambil darah untuk diperiksa sel darah dan tes NS1. Tes NS1 adalah screening awal untuk demam berdarah. Selama 1 jam kami di IGD, suhu Asha tak kunjung turun. Padahal seharusnya obat penurun panas yang tadi diberikan lewat pantat sudah bereaksi menurunkan demamnya. Hingga hasil tes darah selesai, ternyata sel darah Asha normal dan tes NS1 pun negatif. Dokter memberi pilihan apakah akan pulang atau dirawat di RS. Karena menurut dokter, kasus demam seperti ini bisa saja dirawat di rumah. Namun kami khawatir dengan kondisi Asha yg hingga saat itu demamnya tak kunjung reda dan memutuskan agar Asha dirawat saja di RS. Saat itu saya pikir paling butuh 1-2 hari dirawat di RS. Jadilah pagi itu, Sabtu 30 Juni 2012 pukul 01.30 Asha masuk kamar perawatan 315a RS Hermina Arcamanik untuk dirawat.

Asha The Paper Crusher

Asha is 5+ month old now. She had new toy. It's paper. How she loves to twist and crush the paper with her tiny hands. And she loves the sound when she crushes the paper. I just sit her on the bed, give her the paper, and she was busy playing with her new toy :D

 My baby girl sits on pillow and busy playing with her paper


Haha.. :D

This time Asha practises to grip and crush paper. Next, she'll learn how to grip and crush food. Hehe..



Asha And Nay

Last weekend Asha visited her niece, her name is Nayla, we called her Nay. She is 7 months old, 2 months older than Asha. Nay is a big baby girl, when i put Asha next to her, Asha looked tiny. All this time me and hubby always thought that Asha is big already, but we're wrong, she's still our little baby girl (and will always be) Hehe.. :D

We laid Asha and Nay side to side on the bed, while i chatted with my niece. We didn't notice at first that the babies were trying to reach each other. The babies were curious to each other, they were staring and tried to reach each other hands. When suddenly they were holding hands and didn't let go. When Nay lost her hold, Asha tried to reach back. And they were holding hands again. Aww..too sweet.. :D

Lucky that i could capture the moment,

Asha 5+m and Nay 7+m : let's holding hand,sis :)

I want to share a little story about Nay. She lives with her grandma, grandpa, and aunty that comes 4 days a week. Her mom, dad, and her 3 years old brother live in other town, because the parent work there. Nay drinks formulated milk since born. Her mom and brother visit her once in two weeks, while her dad visits her once in a month. I feel sorry to know that Nay is closer and more comfortable to her grandparent rather to her parent. Nay cries whenever she meets new people. She feels uncomfortable with new people around her, it takes sometime for her to get used to with new people. When i hold her, she sobbed. Ohh poor little girl. She doesn't used to meet alot of people, because everyday she only meets her grandma, grandpa, and her aunt sometime. Thankfully the grandparent love Nay so much and give the best they could to nurture her. Nay looks happy and healthy under grandparent supervision. The situation forces Nay to live separately from her parent. I pray the best for her and the family, hope that they can reunited soon. 

I feel lucky that i can see and kiss and hug and hold and breastfeed Asha everyday, although i have to leave her 6-7. I hope i able to be with her 24-7, together with hubby too. Soon.



Ashandul

Asha is 5 months today. She babbles alot, screams alot, smiles and laughs alot, eating her fingers, grabbing toys, lifting her neck, and doing other thing that makes me amaze. She is my sunshine that brights my day. Now she even more shiny than before because of her bald head :D

Actually she had her hair shaved couple weeks ago when i took her to hospital. It cost IDR 65.000 to shaved her almost bald head into the real bald head!

My husband could have 6,5 times hair cut at barber shop with IDR 65.000. My oh my.. But at least the hospital used electric razor only to shave baby's hair. If i took Asha to barber shop, it would cost IDR 7.000 but they used the same  razor to shave old men's hair and other men's beard. Oh nooooo!!!!  >__<

This is Asha with her new hair(less),

My beautiful Ashandul :)

Be kind, be beautiful as always my lovely baby girl. Mommy and daddy always love you.



 

My Lavender Love Story Copyright 2009 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipietoon | All Image Presented by Online Journal